Pasuruan, sidikbangsa.com – Kematian Widi Nurcahyono, warga Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, memicu sorotan publik setelah keluarga menduga korban menjadi korban penganiayaan saat proses penangkapan oleh aparat kepolisian terkait dugaan kasus judi online.
Keluarga korban menilai terdapat kejanggalan dalam peristiwa yang berujung pada meninggalnya Widi. Mereka mempertanyakan kondisi korban yang disebut masih sehat sebelum diamankan, namun tak lama kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Choirul Anwar, kakak korban, mengungkapkan bahwa adiknya didatangi sejumlah petugas yang mengaku berasal dari Polsek Beji, Polres Pasuruan, saat sedang bekerja di sebuah Gerai PPOB (Payment Point Online Bank) yang berlokasi tidak jauh dari kediamannya pada Senin (3/8) sore.
Menurut keterangan yang diterima keluarga dari warga sekitar, saat proses penangkapan berlangsung terdengar suara korban berteriak meminta pertolongan dari dalam loket tempatnya bekerja.
“Katanya yang mendengar, adik saya itu berteriak-teriak di dalam loket. Adik saya berteriak, ‘Ampun Pak, ampun Pak, sakit Pak, sakit Pak… Saya tidak bisa napas Pak’,” ujar Choirul.
Pihak keluarga kemudian mendapat informasi dari petugas bahwa korban pingsan karena terkejut saat proses penangkapan. Saat itu, korban disebut masih bernapas ketika dibawa menuju Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun sesampainya di fasilitas kesehatan tersebut, tenaga medis menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum tiba di lokasi sehingga tidak dapat dilakukan tindakan penyelamatan.
Penjelasan tersebut menimbulkan keraguan di pihak keluarga. Mereka menilai kondisi fisik Widi sebelumnya sangat baik dan tidak memiliki riwayat penyakit yang dapat menyebabkan kematian mendadak.
Keluarga pun menduga korban mengalami kekerasan fisik saat proses penangkapan berlangsung. Dugaan itu muncul karena perubahan kondisi korban yang dinilai terjadi sangat cepat setelah diamankan aparat.
“Wong dia sehat-sehat saja. Tadi pagi dia masih markir,” kata Choirul menegaskan.
Kasus ini pun menjadi perhatian masyarakat setempat. Keluarga berharap penyebab kematian korban dapat diungkap secara transparan dan objektif agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Menanggapi tudingan tersebut, Kapolres Pasuruan AKBP Harto Agung Cahyono menyatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian korban. Polisi telah melakukan visum terhadap jenazah di Rumah Sakit Bhayangkara.
“Hasil visum sementara tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban,” ujar Harto saat dikonfirmasi.
Meski demikian, untuk memastikan hasil pemeriksaan lebih akurat dan menghindari polemik, Polres Pasuruan berencana membawa jenazah korban ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya guna menjalani pemeriksaan lanjutan oleh tim medis yang lebih independen.
“Kita bawa ke RSUD Dr. Soetomo agar netral,” tegasnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti kematian Widi Nurcahyono masih menunggu hasil pemeriksaan medis lanjutan. Sementara itu, keluarga korban berharap proses investigasi dilakukan secara terbuka dan profesional sehingga seluruh fakta yang sebenarnya dapat terungkap. (Red)










