Indramayu, sidikbangsa.com – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengupayakan penyelesaian persoalan kapal milik PT Pertamina yang hingga kini tertahan di kawasan strategis Selat Hormuz. Upaya diplomatik terus dilakukan untuk memastikan kapal-kapal tersebut dapat melanjutkan pelayaran dengan aman.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaiman, mengatakan pemerintah sedang menempuh berbagai langkah diplomatik guna menuntaskan persoalan tersebut.
“Saat ini masih dalam proses. Kami terus mencari upaya-upaya diplomatik agar persoalan ini bisa segera diselesaikan,” ujar Laode saat ditemui di kawasan Kilang Balongan, Indramayu, Jumat (13/3/2026).
Laode menjelaskan bahwa penahanan kapal di kawasan tersebut tidak hanya dialami oleh kapal Indonesia. Sejumlah kapal dari berbagai negara juga mengalami kondisi serupa akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
“Bukan hanya kapal kita saja, banyak kapal dari negara lain juga masih tertahan,” katanya.
Sebelumnya, anak usaha Pertamina di sektor pelayaran, Pertamina International Shipping (PIS), memastikan dua dari empat kapal yang beroperasi di kawasan Timur Tengah telah berhasil keluar dari area konflik.
Kedua kapal tersebut adalah PIS Rinjani dan PIS Paragon, yang kini telah menjauh dari wilayah rawan.
Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menjelaskan bahwa masih terdapat dua kapal lain yang berada di kawasan Teluk Arab, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.
“Dari empat unit kapal milik PIS yang beroperasi di kawasan Timur Tengah, dua kapal telah keluar dari area konflik, yaitu PIS Rinjani dan PIS Paragon,” kata Vega dalam keterangan tertulis, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, dua kapal yang masih berada di kawasan tersebut saat ini menunggu situasi keamanan yang memungkinkan untuk melintas melalui Selat Hormuz.
Meski demikian, ia memastikan kondisi kapal dan seluruh kru dalam keadaan aman.
Kapal Gamsunoro diketahui mengangkut kargo milik konsumen pihak ketiga, sementara VLCC Pertamina Pride tengah menjalankan misi strategis membawa minyak mentah jenis light crude oil untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Di tengah situasi tersebut, Pertamina memastikan rantai pasok energi tetap terjaga. Hal ini didukung oleh sekitar 345 armada kapal yang berada di bawah pengelolaan entitas Pertamina Group dan beroperasi di berbagai perairan internasional maupun domestik.
Untuk menjaga kelancaran distribusi energi, Pertamina juga menerapkan strategi Regular, Alternative, and Emergency dalam menentukan jalur distribusi yang paling aman dan efektif.
“PIS terus melakukan pemantauan intensif selama 24 jam secara real-time terhadap seluruh posisi armada, kru, dan pekerja. Kami juga berkoordinasi erat dengan otoritas maritim dan pihak berwenang setempat untuk memastikan keamanan kapal serta keselamatan seluruh kru,” ujar Vega.
Situasi di kawasan Selat Hormuz sendiri menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran energi paling vital di dunia yang menghubungkan kawasan Teluk Arab dengan pasar global. (Red)









