Jakarta, sidikbangsa.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung sejumlah wilayah di Kalimantan. Kondisi terparah dilaporkan terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng), dengan jarak pandang warga terganggu bahkan pada siang hari.
Wahyu, warga Palangka Raya, mengatakan asap kini semakin pekat. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu dan mulai memicu keluhan gangguan pernapasan.
“Siang sekarang gelap penuh asap, jarak pandangan terbatas, sudah banyak yang kena ISPA,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Koordinator Youth Act Kalimantan, Sarasi Silvester Sinurat. Menurutnya, kabut asap telah dirasakan sejak Juli 2026. Jika sebelumnya hanya muncul pada pagi dan malam hari, kini asap juga menyelimuti wilayah Kalimantan pada siang hari.
Sarasi menyebut hampir seluruh wilayah Kalimantan memiliki titik panas, dengan kebakaran cukup besar terpantau di Kalimantan Barat. Sementara di Kalteng, Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak karena asap terbawa angin.
Sebagai relawan yang terlibat langsung dalam pemadaman, Sarasi mengungkapkan karhutla, terutama di lahan gambut, sangat sulit ditangani. Keterbatasan personel, medan yang sulit dijangkau, minimnya sumber air, hingga keterbatasan bahan bakar menjadi kendala utama.
“Pagi sampai sore kami padamkan api. Setelah istirahat, malam karena tidak ada personel lagi, api besar lagi,” katanya.
Menurut dia, kebakaran di lahan gambut memiliki karakter berbeda karena api dapat menjalar dan membara di bawah permukaan. Dari permukaan, petugas sering kali hanya melihat asap sehingga sulit mengetahui kedalaman dan arah rambatan api.
Kondisi diperparah dengan kekeringan yang melanda Kalteng. Sejumlah sungai mengalami penyusutan debit, sehingga sumber air untuk pemadaman semakin terbatas. Relawan juga menghadapi persoalan pasokan bahan bakar yang mengharuskan mereka mengantre dan kehilangan waktu di lapangan.
Pemadaman pada malam hari pun memiliki risiko tinggi karena titik api sulit terlihat dan relawan berpotensi menginjak bara yang tersembunyi.
Pemantauan Youth Act pada 18 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB menunjukkan asap karhutla telah mengganggu aktivitas masyarakat. Di sisi lain, warga masih menghadapi keterbatasan akses terhadap masker maupun layanan kesehatan.
Untuk membantu warga, Youth Act Kalimantan tengah mengembangkan rumah aman asap di Desa Pilang. Fasilitas tersebut disiapkan sebagai tempat perlindungan sementara bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan udara bersih.
Desa Pilang dipilih karena lokasinya berdekatan dengan Tumbang Nusa, salah satu kawasan yang terdampak parah kabut asap.
Sarasi juga mengingatkan bahaya ketika masyarakat mulai menganggap kabut asap sebagai kondisi biasa. Menurutnya, warga belum mengungsi karena hampir seluruh wilayah Kalimantan turut terdampak sehingga mereka tidak mengetahui harus berpindah ke mana.
“Belum ada yang mengungsi karena bingung mau ke mana lagi. Sekarang musim kering, penghasilan dari hutan juga sudah tidak ada,” ujarnya.
Youth Act Kalimantan mencatat, berdasarkan penelitian internal mereka, jumlah penderita ISPA di Kalimantan hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 21.000 orang. Angka tersebut disebut meningkat drastis, terutama di wilayah masyarakat adat yang jauh dari apotek dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Sarasi berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga memastikan warga terdampak memperoleh perlindungan kesehatan dan akses terhadap udara bersih. Ia menilai keterbatasan personel, air, logistik, serta sulitnya medan harus segera diatasi agar kebakaran tidak terus meluas dan krisis asap semakin parah. (Red)










