Jakarta, sidikbangsa.com – Gejolak konflik di Timur Tengah mulai mengguncang industri penerbangan global. Lonjakan tajam harga bahan bakar jet memaksa maskapai dunia menaikkan tarif tiket sekaligus memangkas sejumlah rute penerbangan.
Tekanan biaya yang meningkat drastis terjadi seiring konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang telah memasuki pekan ketiga. Dampaknya, harga avtur melonjak signifikan, bahkan dilaporkan naik hingga dua kali lipat di Eropa dan hampir 80 persen di kawasan Asia sejak akhir Februari.
CEO Ed Bastian mengungkapkan lonjakan harga bahan bakar telah menambah beban biaya Delta Air Lines hingga US$400 juta atau sekitar Rp6,4 triliun hanya dalam bulan Maret. Ia menegaskan, industri tidak punya banyak pilihan selain meneruskan tekanan biaya tersebut ke konsumen melalui kenaikan harga tiket.
Senada, American Airlines juga memperkirakan tambahan beban sebesar US$400 juta pada kuartal pertama tahun ini akibat kenaikan harga bahan bakar.
Di Eropa, langkah penyesuaian mulai terlihat. Maskapai SAS AB menjadi salah satu yang pertama memangkas sejumlah penerbangan. Perusahaan menyebut keputusan tersebut diambil akibat kenaikan harga bahan bakar yang “tajam dan tiba-tiba”, yang kini dirasakan di seluruh sistem penerbangan Eropa.
Gangguan tidak hanya terjadi dari sisi biaya. Penutupan sebagian wilayah udara di Timur Tengah akibat ancaman serangan rudal dan drone memicu pembatalan, penjadwalan ulang, hingga pengalihan rute penerbangan secara besar-besaran.
Dampak nyata terlihat di Bandara Frankfurt, yang mencatat sekitar 86.000 penumpang terdampak pembatalan penerbangan dalam dua pekan pertama konflik. Saat ini, hanya sepertiga koneksi mingguan ke Timur Tengah yang masih beroperasi.
Tekanan juga datang dari sisi pasokan bahan bakar. Penghentian ekspor avtur oleh China dan Thailand memperburuk kondisi pasar, bahkan mendorong otoritas di Vietnam memperingatkan potensi pengurangan penerbangan mulai April.
Sebagai respons, sejumlah maskapai mulai menyesuaikan strategi. Grup Air France-KLM telah mengumumkan kenaikan harga tiket jarak jauh guna mengimbangi lonjakan biaya bahan bakar.
Meski demikian, pelaku industri tetap berhati-hati. Bastian menilai kenaikan tarif harus dilakukan secara terukur di tengah kondisi kepercayaan konsumen yang masih rapuh pascapandemi.
Di sisi lain, American Airlines memperkirakan pendapatan kuartal pertama tetap tumbuh lebih dari 10 persen. Namun, tekanan biaya membuat proyeksi kerugian per saham masih berada di batas bawah panduan sebelumnya.
Situasi ini menunjukkan konflik geopolitik kembali memicu efek berantai yang luas, menempatkan industri penerbangan global dalam tekanan besar, setelah sebelumnya terpukul hebat akibat pandemi COVID-19. (Red)









