Beranda / Daerah / Bekali Generasi Muda Hadapi Dunia Kerja, Tri Adhianto Tekankan Skill, Leadership dan Networking

Bekali Generasi Muda Hadapi Dunia Kerja, Tri Adhianto Tekankan Skill, Leadership dan Networking

Kota Bekasi, sidikbangsa.com – Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mendorong generasi muda agar tidak menjadikan gelar akademik sebagai satu-satunya ukuran kesuksesan. Menurutnya, tantangan dunia kerja dan perkembangan teknologi menuntut mahasiswa memiliki kemampuan yang lebih luas, mulai dari keterampilan praktis, kepemimpinan, jejaring, kreativitas hingga kemampuan beradaptasi.

Pesan tersebut disampaikan Tri saat hadir sebagai keynote speaker Seminar Nasional STIE Arlindo yang mengusung tema “Beyond the Degree: Membangun Skill, Leadership, dan Networking untuk Kesuksesan Generasi Muda”. Kegiatan yang berlangsung di STIE Arlindo, Kelurahan Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, itu diikuti mahasiswa dan calon mahasiswa.

Tri menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini. Pendidikan formal, kata dia, tetap penting sebagai fondasi pengetahuan dan kompetensi. Namun, bekal tersebut harus diperkuat dengan pengalaman, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, kerja sama, serta keberanian untuk terus belajar menghadapi perubahan zaman.

“Jangan hanya mengejar gelar. Yang lebih penting adalah bagaimana selama kuliah kita membangun kemampuan, pengalaman, kepemimpinan dan jaringan. Semua itu akan menjadi bekal ketika masuk ke dunia kerja maupun ketika membangun usaha dan berkarya di tengah masyarakat,” ujar Tri.

Ia meminta mahasiswa memanfaatkan masa perkuliahan untuk mengikuti berbagai kegiatan positif. Organisasi kemahasiswaan, forum diskusi, kegiatan sosial, pelatihan, hingga aktivitas yang membuka ruang kolaborasi dinilai dapat menjadi tempat untuk mengasah kemampuan yang tidak selalu diperoleh dari ruang kelas.

Media Sosial Bukan Sekadar Hiburan

Dalam paparannya, Tri juga menyoroti perubahan pola komunikasi masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi digital dan media sosial.

Menurutnya, media sosial kini bukan lagi sekadar ruang hiburan, tetapi telah berkembang menjadi kanal komunikasi publik yang memungkinkan masyarakat menyampaikan informasi, kritik maupun aspirasi secara langsung kepada pemerintah.

Tri bahkan menceritakan pengalamannya menggunakan akun media sosial pribadi untuk berinteraksi dengan masyarakat.

“Setiap hari saya memantau pesan yang disampaikan masyarakat melalui media sosial. Ada yang melalui Instagram, TikTok, Facebook dan berbagai platform lainnya. Bahkan ada warga Kabupaten Bekasi yang menyampaikan laporan kepada saya karena mengira wilayah tersebut masuk Kota Bekasi,” tuturnya.

Ia mengungkapkan derasnya komunikasi digital membuat informasi dari masyarakat dapat diterima dalam hitungan menit. Bahkan setelah menghadiri sebuah kegiatan, pesan yang masuk melalui WhatsApp bisa mencapai jumlah yang sangat banyak.

“Kadang ketika saya selesai menghadiri kegiatan seperti ini dan masuk ke mobil, WhatsApp yang masuk sudah ribuan. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat sekarang begitu cepat menyampaikan informasi dan aspirasi melalui teknologi,” katanya.

Karena itu, Tri mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti sebagai pengguna media sosial. Platform digital, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk membangun personal branding, memperluas jaringan, menyampaikan gagasan, mempromosikan karya, sekaligus menciptakan peluang.

“Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah generasi yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan sesuatu, membangun peluang dan memberikan manfaat bagi orang lain,” tegasnya.

AI Jadi Bagian dari Daya Saing Generasi Muda

Selain media sosial, Tri menekankan pentingnya mahasiswa memahami perkembangan Artificial Intelligence (AI). Perkembangan AI yang semakin cepat diperkirakan akan membawa perubahan besar terhadap pola kerja, bisnis, pendidikan dan kehidupan sosial.

Menurut Tri, AI tidak semestinya dipandang hanya sebagai ancaman terhadap lapangan pekerjaan. Justru, teknologi tersebut harus dipelajari dan dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas serta kemampuan manusia.

“AI harus kita pelajari. Bukan untuk menggantikan manusia, tetapi bagaimana kita bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan dan produktivitas. Ini akan menjadi bagian dari daya saing generasi mendatang,” jelasnya.

Ia menilai generasi muda yang mampu menggabungkan pendidikan, keterampilan, kepemimpinan, kemampuan membangun jejaring serta penguasaan teknologi akan memiliki peluang lebih besar untuk menghadapi perubahan dunia kerja.

Tri pun mengajak mahasiswa STIE Arlindo untuk berani keluar dari zona nyaman. Menurutnya, kesuksesan tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari keberanian mencoba, kegagalan yang menjadi pengalaman, relasi yang dibangun, serta kemauan untuk terus mengembangkan diri.

“Tema Beyond the Degree ini mengingatkan kita bahwa gelar akademik hanyalah salah satu modal. Setelah itu masih ada skill, leadership, networking, kreativitas dan kemampuan beradaptasi yang harus terus dibangun,” ujarnya.

Tri berharap mahasiswa dan calon mahasiswa STIE Arlindo mampu menjadi generasi yang tidak hanya siap mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang, membangun inovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Baginya, generasi muda harus mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan kemampuan dasar sebagai manusia, yakni berkomunikasi, berkolaborasi, memimpin, berpikir kritis dan menghasilkan karya yang memberi manfaat.

“Terus belajar, berani mencoba dan manfaatkan teknologi secara positif. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen teknologi. Jadilah generasi yang mampu menciptakan peluang dan memberikan manfaat bagi orang lain,” pungkasnya. (Red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *