Jakarta, sidikbangsa.com – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai menekan kawasan Teluk, memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas energi dan keamanan jalur perdagangan dunia. Ancaman serangan balasan, gangguan pelayaran, hingga risiko terhadap fasilitas minyak membuat kawasan ini berada di titik paling rentan.
Negara-negara Teluk yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) yakni Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab kini berada di garis depan potensi limpahan konflik. Kawasan dengan luas lebih dari 2,6 juta kilometer persegi ini merupakan pusat produksi minyak dan gas dunia sekaligus jalur vital distribusi energi global.
Seiring meningkatnya tensi, perhatian pun tertuju pada kesiapan militer masing-masing negara Teluk dalam menghadapi kemungkinan eskalasi yang lebih luas.
Arab Saudi Paling Dominan
Berdasarkan pemeringkatan Global Firepower (GFP), Arab Saudi menjadi kekuatan militer paling unggul di kawasan Teluk. Negara ini menempati peringkat 25 dunia dengan power index 0,4473 jauh meninggalkan negara tetangganya.
Dominasi Arab Saudi tidak lepas dari besarnya anggaran pertahanan, modernisasi alutsista, serta dukungan teknologi militer dari Barat.
UEA dan Qatar Andalkan Kekuatan UdaraDi posisi kedua, Uni Emirat Arab (UEA) berada di peringkat 54 dunia (power index 1,0188). Dengan sekitar 65.000 personel aktif dan anggaran militer mencapai US$23,48 miliar, UEA menonjol lewat modernisasi alat utama sistem persenjataan, khususnya di matra udara dan darat.
Sementara itu, Qatar (peringkat 71 dunia, power index 1,4096) tampil menarik dengan kekuatan udara yang impresif. Meski jumlah tentaranya relatif kecil, Qatar memiliki lebih banyak pesawat tempur dibanding UEA menunjukkan fokus pada superioritas udara.
Kuwait, Bahrain, dan Oman di Lapisan Bawah
Kuwait menempati peringkat 76 dunia (power index 1,7161) dengan kekuatan militer yang cukup solid, terutama dari sisi jumlah personel dan kendaraan lapis baja.
Bahrain berada di posisi 75 dunia (power index 1,6731) dan menjadi negara dengan skala militer terkecil di kawasan. Meski demikian, struktur militernya tetap lengkap, meski kapasitasnya terbatas.
Sementara Oman berada di posisi paling rendah, yakni peringkat 86 dunia (power index 1,8823). Kendati memiliki jumlah personel cukup besar, kemampuan tempurnya dinilai masih tertinggal dibanding negara Teluk lainnya.
Kawasan Kunci di Tengah Ancaman Global
Di tengah memanasnya konflik, negara-negara Teluk tidak hanya menghadapi ancaman militer langsung, tetapi juga tekanan terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan energi global.
Jika eskalasi terus meluas, kawasan Teluk berpotensi menjadi episentrum krisis baru dengan dampak yang tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga mengguncang pasar energi dunia. (Red)









