LIMA, PERU, sidikbangsa.com — Jejak ritual kuno kembali terungkap dari situs arkeologi Huaca Pucllana, Lima, Peru. Arkeolog menemukan sisa kerangka seorang pria dewasa yang diduga menjadi korban persembahan dalam ritual Kebudayaan Lima ratusan tahun silam.
Dikutip dari AP News, Senin (24/8/2026), kerangka tersebut ditemukan di dalam sebuah kanal yang terhubung dengan kolam upacara di kompleks Huaca Pucllana, piramida kuno yang dibangun menggunakan bata lumpur.
Para peneliti menduga pria tersebut sengaja dikorbankan ketika kanal itu ditutup. Posisi jasad dan lokasi penemuannya menjadi petunjuk penting untuk mengungkap fungsi kanal sekaligus rangkaian ritual yang pernah dilakukan masyarakat Kebudayaan Lima.
Arkeolog yang memimpin penggalian, Gladys Paz, mengatakan temuan tersebut dapat membantu para peneliti memahami lebih jauh praktik keagamaan dan ritual masyarakat Lima. Temuan itu juga membuka peluang untuk merekonstruksi bentuk upacara yang berlangsung di kawasan tersebut ratusan tahun lalu.
Menurut Paz, jasad ditemukan dalam posisi berbaring miring ke kiri. Bagian tengkoraknya menghadap ke arah piramida sekaligus Samudra Pasifik, sebuah orientasi yang dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai makna simbolis dari proses pemakaman atau pengorbanan tersebut.
Mengungkap Ritual Kebudayaan Lima
Kebudayaan Lima berkembang di wilayah pesisir tengah Peru sejak sekitar abad pertama hingga abad ketujuh Masehi. Peradaban ini muncul sekitar 700 tahun sebelum berkembangnya Kekaisaran Inca dan meninggalkan sejumlah pusat permukiman serta bangunan monumental di kawasan pesisir.
Huaca Pucllana menjadi salah satu pusat upacara dan administrasi terpenting bagi masyarakat Lima. Kompleks tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat masa lalu membangun pusat kegiatan sosial, politik, dan keagamaan di tengah lingkungan pesisir yang kini menjadi kawasan metropolitan.
Peradaban Lima telah lama menghilang sebelum penjajah Spanyol mendirikan Kota Lima pada 1535. Namun, peninggalannya masih bertahan hingga kini dan menjadi bagian penting dari sejarah Peru.
Ironisnya, situs tersebut kini berada di tengah kawasan perkotaan modern. Piramida kuno Huaca Pucllana dikelilingi taman, jalan raya, serta gedung-gedung apartemen di kawasan Miraflores dan San Isidro.
Huaca Pucllana saat ini juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan arkeologi yang penting di Lima.
Situs Arkeologi Masih Tersebar di Lima
Pemerintah Peru mencatat terdapat lebih dari 400 situs arkeologi di wilayah metropolitan Lima. Banyak di antaranya berada di tengah perkembangan kota yang sangat pesat, sehingga keberadaan situs-situs tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi penelitian arkeologi.
Profesor arkeologi dari National University of San Marcos, Pieter van Dalen, yang tidak terlibat dalam penggalian, mengatakan penemuan makam, jasad yang dimummikan, maupun benda-benda pemakaman sebenarnya bukan hal yang asing di sepanjang pesisir Peru.
Menurut dia, peninggalan semacam itu masih dapat ditemukan di berbagai lokasi, bahkan terkadang muncul secara tidak sengaja ketika aktivitas pembangunan modern membuka lapisan tanah yang menyimpan peninggalan masa lalu.
Temuan jasad dan artefak arkeologi, termasuk yang ditemukan ketika pekerja konstruksi menggali tanah untuk memasang pipa gas, menunjukkan betapa banyak jejak peradaban kuno yang masih tersembunyi di bawah kawasan perkotaan Peru.
Penemuan kerangka di Huaca Pucllana karena itu bukan sekadar temuan arkeologis. Lebih jauh, temuan tersebut menjadi potongan penting untuk memahami bagaimana masyarakat Kebudayaan Lima memandang kematian, pengorbanan, ruang sakral, serta hubungan manusia dengan lingkungan dan kekuatan spiritual yang mereka yakini.
Di tengah modernisasi Kota Lima, peninggalan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa di bawah denyut kehidupan kota modern masih tersimpan sejarah panjang peradaban yang telah berkembang jauh sebelum lahirnya Kekaisaran Inca. (Red)









