Jakarta, sidikbangsa.com – Konflik antara manusia dan satwa liar kembali terjadi di Provinsi Riau. Seorang warga Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, mengalami luka serius setelah diserang seekor beruang madu saat beraktivitas di kebunnya.
Peristiwa tersebut menambah daftar konflik manusia dan satwa liar yang masih kerap terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Korban dilaporkan diserang secara tiba-tiba dari arah belakang oleh beruang madu saat sedang bekerja di area perkebunannya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pemerintah desa setempat, korban sempat melakukan perlawanan untuk menyelamatkan diri. Upaya tersebut berhasil membuat satwa liar itu menghentikan serangannya dan melarikan diri menuju kawasan hutan di sekitar lokasi kejadian.
Meski berhasil lolos dari ancaman yang lebih fatal, korban mengalami luka cukup parah akibat serangan tersebut dan kehilangan banyak darah. Setelah berhasil kembali ke rumah, korban dilaporkan sempat pingsan sebelum akhirnya dilarikan oleh keluarga ke Rumah Sakit Selasih Pangkalan Kerinci untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bergerak cepat dengan mengerahkan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) dari Pekanbaru ke lokasi kejadian. Tim juga membawa satu unit kandang jebak atau box trap sebagai langkah antisipasi apabila beruang kembali muncul di sekitar permukiman maupun areal perkebunan warga.
Setelah tiba di lokasi, Tim WRU langsung berkoordinasi dengan pemerintah desa, aparat keamanan, serta masyarakat setempat guna mengumpulkan informasi dan menelusuri faktor yang menyebabkan beruang madu memasuki kawasan perkebunan warga.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, pada Kamis (6/8/2026), tim bersama pemerintah desa memasang kandang jebak di sekitar lokasi serangan. Perangkap tersebut dipasang untuk memantau keberadaan satwa sekaligus mencegah terjadinya konflik lanjutan yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, menegaskan bahwa seluruh langkah penanganan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan aspek keselamatan masyarakat dan perlindungan satwa liar.
“Penanganan dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi,” ujar Supartono dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, BBKSDA Riau terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat agar upaya mitigasi dapat berjalan efektif dan risiko konflik serupa dapat diminimalkan.
Beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Karena itu, setiap penanganan konflik dilakukan dengan pendekatan konservasi yang mengedepankan keselamatan manusia tanpa mengabaikan keberlangsungan hidup satwa maupun habitat alaminya.
Kementerian Kehutanan menyatakan penguatan mitigasi konflik manusia dan satwa liar menjadi salah satu prioritas yang terus didorong, terutama di daerah-daerah yang berbatasan dengan kawasan hutan. Langkah tersebut bertujuan menciptakan rasa aman bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia.
Upaya cepat yang dilakukan BBKSDA Riau juga menjadi bagian dari komitmen Kementerian Kehutanan dalam menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan penanganan konflik manusia dan satwa liar melalui pendekatan yang cepat, kolaboratif, dan berbasis konservasi.
Selain melakukan penanganan di lapangan, BBKSDA Riau mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kebun atau wilayah yang berdekatan dengan habitat satwa liar agar meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta tidak bekerja seorang diri di area rawan kemunculan satwa dan segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan keberadaan satwa liar di sekitar permukiman maupun lahan perkebunan.
Dengan sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat, diharapkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar dapat ditekan sehingga keselamatan warga tetap terjaga tanpa mengorbankan kelestarian satwa yang menjadi bagian penting dari ekosistem hutan Indonesia. (Red)










