Moskow, sidikbangsa.com – Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menegaskan bahwa pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz seharusnya menjadi hak eksklusif negara-negara pesisir. Pernyataan ini berpotensi memicu ketegangan baru di jalur energi paling vital dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Kawasan ini berbatasan langsung dengan Iran dan Oman, serta berada di dekat Uni Emirat Arab. Jalur ini menjadi urat nadi distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk ke pasar global.
“Langkah pertama adalah menetapkan prinsip internasional bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz berada di bawah kendali eksklusif negara-negara pesisir,” ujar Jalali kepada RIA Novosti, seperti dikutip dari Antara, Selasa (7/4/2026).
Ia menegaskan, Iran sebagai negara pesisir memiliki hak penuh untuk mengekspor minyak secara bebas melalui selat tersebut. Jalali bahkan memperingatkan, jika hak tersebut tidak dihormati, maka tidak akan ada pihak yang dapat memanfaatkan jalur itu untuk ekspor energi.
Selain itu, Jalali juga menyinggung aspek simbolik dan politik dengan menyatakan bahwa kapal-kapal yang melintas wajib menggunakan istilah “Teluk Persia” sebagai nama geografis resmi. Pernyataan ini dinilai dapat memicu sensitivitas geopolitik di kawasan.
Lebih jauh, Iran mengusulkan mekanisme kompensasi bagi lalu lintas kapal, termasuk jaminan pembelian produk-produk Iran serta skema pembayaran di luar sistem sanksi internasional yang selama ini membatasi transaksi negara tersebut.
Saat ini, parlemen Iran tengah menyusun kerangka hukum baru guna memperkuat kedaulatan dan pengaturan pelayaran di Selat Hormuz. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Teheran dalam merespons tekanan geopolitik yang meningkat.
Sebelumnya, Iran sempat membatasi lalu lintas kapal di selat tersebut sebagai respons atas serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran sejak 28 Februari 2026.
Pembatasan di jalur utama distribusi energi global itu langsung berdampak pada pasar internasional, dengan lonjakan harga minyak dan gas yang signifikan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas pasokan energi dunia, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor dari kawasan Teluk.
Analis menilai, jika ketegangan terus meningkat dan pengaturan sepihak diberlakukan, Selat Hormuz berpotensi menjadi titik krisis baru yang tidak hanya berdampak regional, tetapi juga mengguncang ekonomi global. (Red)









