Jakarta, sidikbangsa.com – Kinerja perekonomian Indonesia pada kuartal II 2026 diperkirakan tetap menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan global. Pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan berada pada kisaran 5,2 hingga 5,3 persen secara tahunan (year on year/yoy), ditopang oleh kuatnya belanja pemerintah, membaiknya harga komoditas batu bara, serta meningkatnya realisasi investasi, khususnya dari penanaman modal asing.
Ekonom Hosiana mengatakan, meskipun terdapat tekanan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, aktivitas ekonomi domestik masih mendapatkan dorongan signifikan dari belanja pemerintah yang tumbuh kuat sepanjang kuartal kedua tahun ini.
“Perkiraan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua berada di kisaran 5,2 hingga 5,3 persen. Walaupun ada inflasi dari kenaikan harga BBM nonsubsidi, belanja pemerintah masih tumbuh sekitar 20 persen secara tahunan sehingga menjadi katalis positif bagi perekonomian,” ujar Hosiana dalam pertemuan bersama para editor media massa di Parapat, Sumatera Utara, seperti dikutip Minggu (2/8/2026).
Menurutnya, faktor lain yang turut menopang pertumbuhan adalah membaiknya harga batu bara di pasar global. Kenaikan harga komoditas unggulan ekspor Indonesia tersebut memberikan dampak positif terhadap penerimaan negara maupun aktivitas ekonomi di sejumlah daerah penghasil tambang.
“Harga batu bara pada Mei relatif meningkat sehingga memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. Kondisi komoditas cukup baik, konsumsi masyarakat juga masih relatif terjaga meskipun terdapat tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah dan indeks manufaktur atau PMI yang sempat mengalami kontraksi,” jelasnya.
Selain konsumsi dan komoditas, investasi juga menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi nasional. Data Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan realisasi investasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp511,8 triliun, atau tumbuh 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari total investasi tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) masih mendominasi dengan nilai Rp257,7 triliun atau setara 50,4 persen dari total investasi. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi Rp254,1 triliun atau 49,6 persen.
“Pertumbuhan investasi asing yang tetap kuat menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah ketidakpastian global,” katanya.
Di sisi lain, Hosiana memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar Amerika Serikat hingga akhir 2026. Salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan kurs adalah tingginya kebutuhan impor, terutama untuk mendukung aktivitas industri dan pembangunan nasional.
Sementara itu, prospek ekonomi Indonesia secara keseluruhan juga mendapat penilaian positif dari lembaga internasional. Dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) Juli 2026, Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026, tidak berubah dari perkiraan yang dirilis pada April lalu.
Dengan angka tersebut, Indonesia diperkirakan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Vietnam yang diproyeksikan tumbuh 7,2 persen. Pertumbuhan Indonesia juga berada di atas Malaysia (4,6 persen), Filipina (3,8 persen), dan Thailand (1,8 persen).
Meski demikian, ADB menilai kawasan Asia Tenggara masih menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi global. Lembaga tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Tenggara menjadi 4,6 persen pada 2026 dari sebelumnya 4,7 persen.
Secara regional, ADB juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia dan Pasifik menjadi 4,9 persen, lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 5,1 persen. Revisi tersebut dipicu oleh berlanjutnya gangguan di pasar energi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi, pupuk, komoditas strategis, hingga rantai pasok internasional.
Kepala Ekonom ADB, Albert Park, mengatakan stabilisasi pasar energi global masih sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik yang penuh ketidakpastian.
Menurutnya, perekonomian negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Namun, pemerintah di kawasan perlu menjaga keseimbangan antara upaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan tekanan inflasi yang berpotensi meningkat akibat gejolak eksternal.
ADB juga merevisi naik proyeksi inflasi Indonesia pada 2026 menjadi 3 persen, dari sebelumnya 2,5 persen. Kendati demikian, tingkat inflasi Indonesia masih diperkirakan lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi Asia Tenggara yang mencapai 3,9 persen.
Di tengah berbagai risiko global, mulai dari eskalasi konflik geopolitik, ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional hingga kondisi keuangan global yang semakin ketat, Indonesia dinilai masih memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat. Dukungan konsumsi domestik, investasi yang terus tumbuh, serta kinerja ekspor komoditas menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan sepanjang 2026. (Red)










