“Sanitary Landfill Rp11 Miliar di TPA Sumurbatu Diduga Gagal Total, Aktifis Sebut DLH Kota Bekasi Tak Punya Konsep dan Keseriusan.”
Kota Bekasi, sidikbangsa.com – Proyek pembangunan sanitary landfill senilai Rp11 miliar di TPA Sumurbatu, Kota Bekasi, menuai sorotan tajam. Alih-alih menjadi solusi modern pengelolaan sampah, instalasi tersebut diduga hanya menjadi “bak sampah raksasa” yang tak mampu menjalankan fungsinya.
Dugaan ini disampaikan dua aktivis sosial dari LSM Indonesia MORALITY Watch (IMW), Gunung Panjaitan dan Marudut Tampubolon, kepada BDS, Jumat (6/2). Mereka menilai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi tidak memiliki konsep matang serta keseriusan dalam pengelolaan sampah.
“Sejak akhir Desember 2025 kami sudah menyurvei pembangunan instalasi di TPA Sumurbatu. Dari struktur kolam hingga instalasi air lindi, terkesan darurat dan asal jadi. Kami sudah sampaikan langsung ke Kepala Dinas dan Plt Sekretaris DLH sebagai penanggung jawab proyek, tetapi responsnya negatif,” ujar Gunung.
Kapasitas Dipertanyakan, Diprediksi Tak Sampai Dua Minggu
Marudut menjelaskan, bak penampungan sampah hanya memiliki kedalaman sekitar 1,5 meter dengan luas kurang lebih 2.000 meter persegi.
“Dengan kapasitas seperti itu, paling-paling tidak sampai dua minggu sudah penuh. Bahkan berpotensi longsor keluar bak,” tegasnya.
Ia menunjukkan dokumentasi yang memperlihatkan bak hanya digali kurang dari dua meter, lalu dilapisi geomembrane dan geotextile. Di atasnya dipasang instalasi pipa untuk menyalurkan air lindi ke kolam penampungan serta pipa gas ke cerobong.
Namun menurutnya, secara konstruksi dan daya tampung, desain tersebut tidak realistis untuk volume sampah Kota Bekasi.
Dibayar 100 Persen, Hasil Dinilai Sederhana dan Rentan Bocor
Memasuki tahun 2026, DLH disebut telah menyatakan proyek selesai dan dibayarkan 100 persen. Namun saat IMW kembali meninjau lokasi pada pertengahan Januari, kondisi di lapangan dinilai jauh dari standar sanitary landfill modern.
“Kolam penampungan air lindi hanya diplester biasa, tanpa pelapis kedap air. Padahal air lindi bersifat korosif. Jika tembok tidak dilapisi membran, cairan bisa merembes ke tanah dan mencemari lingkungan,” jelas Marudut.
Selain itu, ditemukan beberapa bagian geomembran di bak sampah yang sobek. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan rembesan lindi ke dalam tanah.

Hanya 8 Hari, Sampah Menggunung dan Meluber
Kekhawatiran aktivis itu terbukti. Hanya delapan hari sejak digunakan, bak sanitary landfill disebut sudah tak terlihat lagi karena tertutup tumpukan sampah.
“Sampah sudah menggunung dan meluber sampai ke jalan. Cerobong gas tak terlihat, kotak mesin pompa tertimbun tanah. Ini membuktikan bak tersebut tidak mampu menjalankan fungsinya,” ungkap Gunung.
Suasana di lokasi pun disebut semakin semrawut, dengan alat berat membolak-balik sampah dan ratusan pemulung beraktivitas di area yang seharusnya steril dan tertata.
Disebut Pemborosan Anggaran, Minta DLH Buka-bukaan
Menurut IMW, jika hanya untuk membuat bak penampungan sampah, anggaran Rp11 miliar dinilai tidak masuk akal.
“Kalau cuma buat bak sampah, tidak perlu sampai Rp11 miliar. Tapi karena diberi label ‘Sanitary Landfill’ dan sistem modern, anggaran dikucurkan. Faktanya, yang terlihat hanya bak sederhana. Sanitary landfill-nya di mana?” kata Gunung.
IMW mendesak DLH Kota Bekasi menggelar konferensi pers dan membuka secara transparan perencanaan, spesifikasi teknis, hingga pertanggungjawaban anggaran proyek tersebut.
“DLH harus bertanggung jawab. Dari perencanaan hingga penggunaan, terlihat tidak ada konsep jelas. Wali Kota semestinya mengevaluasi kinerja DLH. Jika tidak ada sanksi tegas, publik patut bertanya-tanya,” sindir Marudut.
Sorotan terhadap proyek ini menambah panjang daftar persoalan pengelolaan sampah di Kota Bekasi. Publik kini menunggu penjelasan resmi dari DLH terkait dugaan kegagalan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut. (Sof/Pas)









