Home / Internasional / Perang AS–Iran & Blokade Selat Hormuz Bikin RI Putar Otak Cari BBM, Impor dari Amerika Butuh 40 Hari

Perang AS–Iran & Blokade Selat Hormuz Bikin RI Putar Otak Cari BBM, Impor dari Amerika Butuh 40 Hari

Jakarta, sidikbangsa.com – Ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu blokade di Selat Hormuz mulai berdampak pada rantai pasok energi global. Situasi ini memaksa Indonesia mencari alternatif sumber impor bahan bakar minyak (BBM) dari sejumlah negara untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa salah satu opsi yang ditempuh pemerintah adalah meningkatkan impor minyak mentah dari Amerika Serikat. Namun, langkah tersebut memiliki tantangan dari sisi waktu pengiriman yang jauh lebih lama dibandingkan impor dari kawasan Timur Tengah.

Menurut Bahlil, pengiriman minyak mentah dari Amerika Serikat menuju Indonesia bisa memakan waktu hingga 40 hari. Sementara itu, pengiriman dari kawasan Timur Tengah biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu.

“Memang tantangannya adalah kalau dari Amerika lebih lama, mencapai 40 hari. Kalau dari Middle East itu 2–3 minggu. Tetapi sekarang kita bikin kontrak jangka panjang,” ujar Bahlil dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Jumat (13/3).

Ia menjelaskan, selama ini sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Sisanya dipasok dari berbagai negara lain untuk menjaga keberagaman sumber pasokan energi nasional.

“Jadi minyak mentah itu 20 persen memang dari Middle East. Sisanya kita dapat dari Angola, Nigeria, Brasil, kemudian sebagian Amerika, sebagian dari Malaysia. Jadi itu pun kita sudah dapat penggantinya,” jelasnya.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia juga telah mencapai kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat untuk pembelian minyak mentah dalam jumlah besar. Nilai kontrak impor tersebut diperkirakan mencapai USD15 miliar atau setara sekitar Rp253 triliun per tahun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan kesepakatan tersebut tidak hanya mencakup impor minyak mentah, tetapi juga gas petroleum cair (LPG).

“Ada kesepakatan juga untuk melakukan impor gas (LPG) dan crude oil, nilainya USD15 miliar per tahunnya,” kata Rosan dalam konferensi pers secara daring.

Blokade jalur energi strategis di Selat Hormuz sendiri dinilai menjadi faktor penting yang memaksa banyak negara, termasuk Indonesia, menata ulang strategi pasokan energi. Selat sempit di kawasan Timur Tengah tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.

Jika ketegangan geopolitik terus berlanjut, Indonesia diperkirakan akan semakin memperluas sumber impor energi dari berbagai kawasan guna memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga. (Red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *