Beranda / Daerah / Tujuh Daerah di Kalsel Tetapkan Siaga Darurat Karhutla, 1.651 Kejadian Hanguskan 6.905 Hektare

Tujuh Daerah di Kalsel Tetapkan Siaga Darurat Karhutla, 1.651 Kejadian Hanguskan 6.905 Hektare

BANJARBARU, sidikbangsa.com — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) semakin serius. Sedikitnya tujuh kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat karhutla menyusul meningkatnya kejadian kebakaran di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalsel, Ronny Eka Saputra, mengatakan tujuh daerah yang telah menetapkan status siaga darurat tersebut yakni Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Utara (HSU), dan Tanah Bumbu.

“Penetapan status ini disesuaikan dengan kondisi kejadian karhutla yang mulai meluas di masing-masing daerah,” kata Ronny di Banjarbaru, Jumat (21/8/2026).

Data BPBD Kalsel hingga 20 Agustus 2026 menunjukkan skala kebakaran sudah cukup mengkhawatirkan. Tercatat 1.651 kejadian karhutla dengan 8.764 hotspot, yang mengakibatkan sekitar 6.905 hektare lahan terbakar.

Dari sejumlah wilayah terdampak, Kota Banjarbaru tercatat sebagai daerah dengan frekuensi kejadian terbanyak, yakni 342 kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 1.140 hektare.

Sementara Kabupaten Banjar mencatat 302 kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 1.496 hektare. Adapun Kabupaten Tanah Laut mengalami 272 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 1.384 hektare.

Penanganan Dibagi Tiga Ring Prioritas

Mengantisipasi agar kebakaran tidak meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat, Pemprov Kalsel membagi penanganan karhutla ke dalam tiga ring wilayah prioritas.

Ring pertama difokuskan di sekitar Bandara Syamsudin Noor, ring kedua mencakup wilayah utara, sedangkan ring ketiga berada di kawasan selatan Kalsel.

“Patroli dan pemadaman terus kami lakukan secepat mungkin,” ujar Ronny.

Dalam operasi tersebut, penanganan dari udara diperkuat dengan bantuan tiga unit helikopter water bombing dari BNPB, satu helikopter patroli, serta satu pesawat.

Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala serius, terutama sulitnya akses menuju lokasi kebakaran melalui jalur darat. Selain itu, operasi udara memiliki keterbatasan waktu karena helikopter hanya dapat beroperasi hingga sekitar pukul 18.00 Wita.

Jika api belum berhasil dikendalikan hingga sore hari, Satgas Darat harus melanjutkan operasi pemadaman pada malam hari.

Api Gambut Bisa Kembali Menyala

Ronny menyebut lahan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di Kalsel. Api yang terlihat sudah padam di permukaan belum tentu benar-benar mati.

Bara api dapat tetap bertahan di bawah permukaan gambut. Ketika suhu kembali meningkat dan angin bertiup kencang, bara tersebut berpotensi muncul kembali, bahkan menyebar dengan cepat.

“Kondisi lahan gambut menjadi tantangan terberat bagi petugas. Secara kasat mata, api di permukaan sering tampak padam pada malam hari, tetapi bara di bawah permukaan masih bisa menyala,” jelasnya.

Karena itu, pemadaman tidak hanya dilakukan terhadap api yang terlihat, tetapi juga harus disertai upaya pembasahan untuk mencegah munculnya kembali titik api.

Pemprov Fokus Basahi Lahan Gambut

Selain penanganan darurat, Pemprov Kalsel mulai memperkuat langkah mitigasi jangka panjang dengan melakukan pembasahan dan perendaman kawasan gambut.

Langkah tersebut melibatkan sejumlah perangkat daerah, antara lain Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Pekerjaan Umum. Koordinasi juga dilakukan dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III untuk membuka pintu-pintu air.

Pembasahan terutama difokuskan di kawasan utara Bandara Syamsudin Noor, seperti Gunung Damar, Golf Ujung, dan Kurnia.

Upaya tersebut ditujukan untuk meningkatkan tinggi muka air di lahan gambut sehingga kondisi lahan tetap lembap dan potensi kebakaran dapat ditekan.

Langkah ini menjadi penting karena sumber air di sejumlah wilayah selatan relatif sulit ditemukan ketika kebakaran meluas.

Dengan jumlah kejadian yang terus meningkat dan ribuan hotspot terpantau, Pemprov Kalsel kini dituntut tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran terjadi. Penguatan patroli, pembasahan gambut, pengendalian sumber api, serta koordinasi lintas daerah menjadi kunci untuk mencegah karhutla berkembang menjadi bencana yang lebih luas. (Red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *