Beranda / Daerah / Karhutla di Sukabumi Melonjak, Luas Lahan Terbakar Capai 30 Hektare

Karhutla di Sukabumi Melonjak, Luas Lahan Terbakar Capai 30 Hektare

Jakarta, sidikbangsa.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi ancaman serius di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, seiring memasuki puncak musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat luas lahan yang terbakar sejak Juli hingga awal Agustus 2026 mencapai sekitar 30 hektare.

Lonjakan kejadian tersebut terjadi di sejumlah wilayah kecamatan. Kondisi cuaca yang kering ditambah tiupan angin kencang membuat api lebih cepat menjalar dan menyulitkan proses pemadaman.

Manager Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengatakan kejadian karhutla mengalami peningkatan dalam beberapa pekan terakhir.

“Dari awal kejadian secara keseluruhan, luas lahan yang terbakar di wilayah Kabupaten Sukabumi sudah mencapai kurang lebih 30 hektare,” ujar Daeng, Selasa (11/8/2026).

Berdasarkan pendataan BPBD, titik kebakaran tersebar di belasan kecamatan. Sejumlah wilayah yang terdampak antara lain Cireunghas, Cibadak, Sukalarang, Simpenan, Ciemas, dan Jampangtengah.

Tidak seluruh kebakaran terjadi di lahan milik masyarakat. Beberapa peristiwa juga melanda kawasan Perum Perhutani. Di wilayah Ciemas dan Sukalarang, misalnya, kebakaran dilaporkan menghanguskan lahan hingga belasan hektare.

Angin Kencang Percepat Api Menjalar

Daeng menjelaskan, kondisi vegetasi yang mengering selama musim kemarau menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Situasi tersebut diperparah dengan hembusan angin kencang yang membuat api cepat merambat dari satu titik ke titik lainnya.

Namun, faktor alam bukan satu-satunya penyebab. BPBD menduga sebagian besar kasus karhutla justru dipicu oleh aktivitas manusia.

“Selain faktor alam, sebagian besar kejadian diduga dipicu oleh aktivitas manusia seperti pembakaran lahan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

BPBD masih menemukan sejumlah aktivitas masyarakat yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan dengan semak belukar dan vegetasi kering.

Pembakaran sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan, pembukaan lahan pertanian dengan metode pembakaran, hingga kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan menjadi sejumlah pemicu yang mendapat perhatian.

“Banyak kasus bermula dari pembakaran sampah atau alang-alang yang ditinggalkan tanpa pengawasan, lalu api dengan cepat membesar akibat angin kencang,” jelas Daeng.

BPBD Ingatkan Ancaman Merembet ke Permukiman

BPBD Kabupaten Sukabumi mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh titik api sekecil apa pun selama musim kemarau. Api yang awalnya berasal dari lahan kosong atau semak belukar dapat meluas apabila tidak segera ditangani.

Ancaman tersebut menjadi semakin serius ketika titik kebakaran berada tidak jauh dari kawasan permukiman, fasilitas umum, maupun kawasan hutan yang memiliki vegetasi kering.

Karena itu, BPBD meminta masyarakat menghentikan praktik pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Warga juga diminta memastikan api benar-benar padam apabila melakukan aktivitas yang menggunakan api dan tidak meninggalkannya tanpa pengawasan.

“Kami mengimbau warga untuk tidak membakar lahan atau sampah sembarangan dan segera melapor ke petugas jika melihat titik api di lingkungannya,” tutur Daeng.

BPBD bersama unsur terkait juga terus melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang dinilai rawan. Langkah deteksi dini dinilai penting untuk mencegah kebakaran kecil berkembang menjadi karhutla yang lebih luas.

Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, kombinasi lahan kering, cuaca panas, dan angin kencang dapat membuat penanganan kebakaran menjadi jauh lebih sulit jika api sudah telanjur membesar. (Red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *