Home / Ekonomi / Industri Elektronik Tertekan di 2026, Harga Naik hingga 20% akibat Krisis Chip

Industri Elektronik Tertekan di 2026, Harga Naik hingga 20% akibat Krisis Chip

Jakarta, sidikbangsa.com – Industri perangkat elektronik konsumen diperkirakan menghadapi tekanan besar pada 2026. Kelangkaan memori chip global mulai berdampak langsung terhadap berbagai produk, mulai dari komputer, ponsel pintar, hingga peralatan rumah tangga. Kondisi ini berujung pada lonjakan harga di tingkat konsumen dan berpotensi menekan permintaan pasar.

Sejumlah analis memperkirakan harga komponen elektronik akan mengalami kenaikan signifikan, yang pada akhirnya mendorong harga ritel naik hingga 20%. Situasi tersebut dinilai berisiko menggerus daya beli masyarakat, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Tekanan akan semakin terasa jika kenaikan harga tidak diiringi peningkatan kualitas atau inovasi produk.

Pasar Ponsel Global Berisiko Menyusut

Tekanan serupa turut membayangi pasar ponsel dunia. International Data Corporation (IDC) memproyeksikan adanya risiko penurunan pasar smartphone global hingga 5% pada 2026 dalam skenario terburuk. Pemicunya adalah kenaikan harga jual rata-rata perangkat (average selling price/ASP) serta semakin panjangnya siklus penggantian ponsel di kalangan konsumen.

IDC menilai ponsel konvensional dengan layar non-lipat (non-foldable) akan mengalami tekanan paling besar. Dalam laporan terbarunya, pengapalan HP non-lipat diperkirakan turun 1,4% pada 2026. Angka ini mencerminkan melemahnya minat konsumen terhadap perangkat yang dinilai minim terobosan baru.

HP Lipat Jadi Titik Terang Industri

Di tengah pelemahan tersebut, segmen ponsel lipat justru diproyeksikan tumbuh agresif. IDC memperkirakan pengapalan HP lipat akan melonjak hingga 29,7% pada 2026, dikutip dari laporan resmi IDC, Selasa (6/1/2026).

Pertumbuhan ini didorong oleh kehadiran sejumlah perangkat inovatif, termasuk iPhone lipat pertama yang telah lama dinantikan pasar, serta Samsung Galaxy Z TriFold yang memperkenalkan konsep ponsel lipat tiga ke pasar global.

“Tahun 2026 akan menjadi periode yang sangat bergairah bagi kategori HP lipat, dengan pertumbuhan tahunan hampir 30%, jauh di atas patokan 6% pada proyeksi sebelumnya,” ujar Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal.

Ia menambahkan, Samsung akan membuka 2026 dengan Galaxy Z TriFold yang membawa ponsel lipat tiga ke segmen mainstream, sekaligus melanjutkan momentum dari kesuksesan Galaxy Z Fold7 pada 2025. Di sisi lain, ponsel lipat Huawei dengan sistem operasi HarmonyOS Next juga diprediksi mencatat pertumbuhan kuat, dengan pengapalan hampir dua kali lipat pada 2026.

“Namun, game-changer sesungguhnya untuk kategori HP lipat akan hadir pada akhir 2026 ketika Apple resmi masuk ke segmen ini,” kata Popal.

Apple Dinilai Jadi Katalis Pasar

Senada, VP Client Devices IDC Francisco Jeronimo menilai kehadiran HP lipat pertama dari Apple akan menjadi tonggak penting bagi industri.

“Langkah Apple akan mendorong minat pasar terhadap kategori HP lipat. Apple secara historis berperan sebagai katalis dalam mempercepat adopsi produk baru di pasar mainstream,” ujarnya.

Meski dari sisi volume HP lipat masih tergolong segmen niche, Jeronimo menekankan bahwa perangkat ini akan menjadi pendorong nilai utama bagi vendor. Pasalnya, harga jual rata-rata HP lipat diperkirakan mencapai tiga kali lipat dibandingkan ponsel standar.

Siklus Penggantian Makin Panjang, Inovasi Jadi Kunci

Pada 2026, konsumen diperkirakan semakin lama menggunakan ponsel mereka, sehingga siklus penggantian perangkat kian menantang bagi produsen. Dalam konteks industri smartphone yang telah mencapai titik jenuh, HP lipat dipandang sebagai inovasi krusial untuk mendorong minat upgrade sekaligus meningkatkan nilai pasar.

IDC memproyeksikan kategori HP lipat akan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 17% hingga 2029. Sebagai perbandingan, segmen HP konvensional diperkirakan tumbuh kurang dari 1% pada periode yang sama.

Dari sisi sistem operasi, Android diprediksi akan mendominasi pasar HP lipat pada 2026 dengan pangsa 61%. Apple menyusul dengan porsi 22%, sementara HarmonyOS Next diperkirakan menguasai 17% pasar.

Meski demikian, IDC menegaskan bahwa seluruh proyeksi tersebut masih dapat berubah seiring dinamika pasar, perkembangan teknologi, serta kondisi ekonomi global yang terus bergerak. (Red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *