Jakarta, sidikbangsa.com – Pemerintah China menyatakan kesiapan memberikan dukungan kepada Kuba yang tengah dilanda krisis kekurangan bahan bakar jet, situasi yang membuat sejumlah penerbangan internasional ke negara Karibia itu terhenti dan memicu gangguan besar pada sektor transportasi udara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers rutin di Beijing menegaskan bahwa negaranya mendukung Kuba dalam menghadapi tekanan eksternal yang memperburuk kondisi energi di negara tersebut.
“China dengan tegas mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasionalnya, serta menentang campur tangan asing. Kami akan selalu memberikan dukungan dan bantuan kepada pihak Kuba semampu kami,” ujar Lin.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kelumpuhan sebagian layanan penerbangan internasional akibat kelangkaan bahan bakar jet atau Jet A-1 di sejumlah bandara utama Kuba. Hingga Selasa, otoritas China menyatakan belum menerima laporan adanya warga negara mereka yang terjebak di Kuba akibat penghentian penerbangan tersebut.
Dampak Blokir Pasokan Minyak
Krisis ini dipicu oleh pembatasan pengiriman minyak dari Venezuela dan Meksiko ke Kuba, yang disebut sebagai dampak dari tekanan dan sanksi Amerika Serikat. Kuba selama ini sangat bergantung pada pasokan energi dari Venezuela sebagai pemasok utama.
Pemerintah Kuba menyebut langkah tersebut sebagai eskalasi dari “blokade” ekonomi yang telah berlangsung lama dan semakin menekan perekonomian nasional. Selain mengganggu sektor penerbangan, kekurangan energi juga berdampak pada transportasi umum dan sejumlah layanan publik di berbagai wilayah.
Sembilan bandara internasional dilaporkan mengalami kekosongan stok bahan bakar jet. Pemerintah Kuba memperkirakan kondisi darurat ini akan berlangsung setidaknya hingga 11 Maret.
Maskapai Asing Tangguhkan Layanan
Sejumlah maskapai internasional mengambil langkah darurat. Maskapai Kanada seperti Air Canada, WestJet, dan Air Transat menangguhkan layanan reguler ke Kuba. Beberapa di antaranya bahkan mengirim pesawat tanpa penumpang untuk menjemput wisatawan yang masih berada di negara tersebut.
Sejumlah maskapai Eropa juga mempertimbangkan opsi pengisian bahan bakar di negara ketiga, seperti Republik Dominika, guna menghindari risiko kehabisan bahan bakar di bandara Kuba.
Gangguan ini memperburuk tantangan ekonomi yang sudah dihadapi Kuba, termasuk penurunan jumlah wisatawan dan keterbatasan energi domestik. Sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung devisa negara pun terancam semakin terpukul.
Dukungan Rusia
Selain China, Rusia juga menyatakan dukungan diplomatik kepada Kuba. Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut situasi bahan bakar di Kuba memang “kritis” dan menuding tekanan Washington memperparah kondisi tersebut.
“Kami sedang mendiskusikan dengan rekan-rekan Kuba berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan masalah ini, atau setidaknya memberikan seluruh bantuan yang memungkinkan,” ujar Peskov.
Krisis energi ini kembali menyoroti dinamika geopolitik di kawasan Karibia, di mana persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan negara-negara seperti China dan Rusia semakin terlihat nyata. Sementara itu, bagi Kuba, tantangan utama tetap pada pemulihan stabilitas energi dan menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi di tengah tekanan eksternal yang terus berlanjut. (Red)









