Home / Nasional / Referendum Menang Telak, Bougainville Mantap Menuju Kemerdekaan pada 2030

Referendum Menang Telak, Bougainville Mantap Menuju Kemerdekaan pada 2030

“Tetangga Baru Indonesia di Pasifik, Bougainville Bidik Kemerdekaan Penuh Tahun 2030.”

Jakarta, sidikbangsa.com – Sebuah negara baru diproyeksikan akan lahir di kawasan Pasifik Selatan dalam beberapa tahun mendatang. Wilayah Bougainville, yang selama ini merupakan daerah otonom Papua Nugini, menargetkan kemerdekaan penuh pada 2030 setelah mayoritas mutlak penduduknya memilih lepas dari Papua Nugini melalui referendum.

Hasil referendum yang digelar pada 2019 menunjukkan dukungan luar biasa terhadap kemerdekaan. Sebanyak 98,3 persen pemilih menyatakan setuju Bougainville menjadi negara berdaulat, menjadikannya salah satu hasil referendum kemerdekaan paling telak dalam sejarah modern.

Jika proses politik berjalan sesuai kesepakatan, Bougainville akan menjadi negara merdeka terbaru di dunia sekaligus tetangga baru Indonesia di kawasan Pasifik.

Presiden Bougainville, Ishmael Toroama, menegaskan pemerintah otonom tetap berpegang pada peta jalan yang telah disepakati, yakni transisi menuju pemerintahan sendiri pada 2027 dan deklarasi kemerdekaan pada 2030.

“Posisi ini tidak didasarkan pada emosi atau kenyamanan. Ini didasarkan pada Perjanjian Perdamaian Bougainville, pada Bagian XIV Konstitusi Papua Nugini, dan pada komitmen serta perjanjian yang telah membimbing perjalanan kami dan menjaga perdamaian hingga saat ini,” ujar Toroama.

Tetangga Baru Indonesia di Pasifik

Secara geografis, Bougainville berada di ujung timur Papua Nugini dan berjarak sekitar 1.000 kilometer dari ibu kota negara tersebut, Port Moresby. Wilayah ini terdiri atas dua pulau utama, yakni Pulau Bougainville seluas 8.646 kilometer persegi dan Pulau Buka seluas 598 kilometer persegi, yang dipisahkan oleh selat sempit.

Selain dua pulau besar tersebut, Bougainville juga mencakup sejumlah pulau kecil dengan total luas wilayah mencapai sekitar 9.438 kilometer persegi atau sekitar dua persen dari keseluruhan daratan Papua Nugini.

Meski secara administratif berada di bawah Papua Nugini, Bougainville memiliki kedekatan geografis, budaya, dan linguistik dengan gugusan Kepulauan Solomon. Sejumlah peneliti menyebut status Bougainville sebagai bagian dari Papua Nugini merupakan konsekuensi pembagian wilayah kolonial pada akhir abad ke-19 yang membentuk batas-batas negara modern di kawasan Pasifik.

Kaya Bahasa dan Budaya

Bougainville dihuni sekitar 300 ribu penduduk dengan tingkat keragaman budaya yang sangat tinggi. Tercatat terdapat 21 bahasa utama, delapan subbahasa, dan puluhan dialek yang digunakan masyarakat setempat.

Keragaman tersebut mencerminkan karakteristik Papua Nugini yang dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman bahasa terbesar di dunia, dengan lebih dari 800 kelompok bahasa yang masih hidup hingga saat ini.

Perjuangan Panjang Menuju Kemerdekaan

Keinginan untuk merdeka bukanlah isu baru bagi masyarakat Bougainville. Aspirasi tersebut telah muncul sejak dekade 1960-an. Bahkan, wilayah ini pernah mendeklarasikan Republik Solomon Utara, meski tidak mendapat pengakuan internasional dan kemudian bergabung dengan Papua Nugini saat negara itu memperoleh kemerdekaan dari Australia.

Ketegangan politik dan ekonomi kemudian memuncak menjadi perang saudara yang berlangsung selama satu dekade, antara 1988 hingga 1998. Konflik yang menewaskan ribuan orang itu sebagian besar dipicu sengketa pengelolaan tambang tembaga dan emas Panguna, salah satu tambang terbesar di dunia pada masanya.

Perang akhirnya berakhir melalui Perjanjian Perdamaian Bougainville yang menjadi tonggak penting lahirnya Pemerintahan Otonom Bougainville. Kesepakatan tersebut juga membuka jalan bagi pelaksanaan referendum penentuan nasib sendiri.

Referendum yang digelar pada 2019 menghasilkan dukungan hampir bulat terhadap kemerdekaan. Meski hasilnya bersifat tidak mengikat dan masih memerlukan ratifikasi dari pemerintah Papua Nugini, proses negosiasi terus berjalan hingga kini.

Apabila target 2030 terealisasi, Bougainville tidak hanya akan mengakhiri perjalanan panjang perjuangan politiknya, tetapi juga menandai lahirnya sebuah negara baru di kawasan Pasifik yang secara geografis akan menjadi salah satu tetangga terdekat Indonesia. (Red)

Tagged:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *