Home / Daerah / Pedagang Es Kelapa Boyong 24 Keluarganya Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci

Pedagang Es Kelapa Boyong 24 Keluarganya Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci

Kabupaten Gowa, sidikbangsa.com – Deru kendaraan bermotor memecah sunyi pagi di sekitar Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhajumrah) Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Namun, yang datang bukan iring-iringan pejabat atau rombongan resmi. Di balik keramaian itu, terselip kisah sederhana tentang seorang penjual es kelapa yang membawa mimpi besar untuk keluarganya: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Pria itu dikenal warga dengan sebutan Haji Ali. Pagi itu, ia datang bersama rombongan besar lima unit mobil dan belasan kendaraan roda dua mengantar 24 anggota keluarganya untuk mendaftar haji. Anak, ponakan, hingga cucu-cucu ikut dalam rombongan yang total berjumlah 36 orang. Kehadiran mereka sontak menyedot perhatian warga dan pegawai di sekitar kantor.

Kepala Kantor Kemenhajumrah Gowa, Alim Bahri, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, pendaftaran yang dilakukan Haji Ali tergolong tidak biasa karena melibatkan banyak anggota keluarga sekaligus.

“Kami telah menerima rombongan Haji Ali yang mendaftarkan anak, ponakan, dan cucu-cucunya,” ujar Alim Bahri, dikutip dari Antara, Selasa (13/1).

Pemandangan itu memang jarang terjadi. Seorang penjual es kelapa, yang sehari-hari mengais rezeki dari usaha sederhana, datang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi membawa harapan kolektif seluruh keluarga. Sejak dini, ia ingin memastikan orang-orang terdekatnya memiliki kesempatan yang sama untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Haji Ali (61) tak menampik niat besarnya. Dengan nada tenang, ia menyebut pendaftaran ini sebagai ikhtiar jangka panjang.“Kami datang untuk mendaftarkan anak, ponakan, dan cucu agar mendapat porsi haji,” katanya.

Keputusan itu bukan muncul tiba-tiba. Haji Ali telah dua kali menginjakkan kaki di Tanah Suci pertama pada 1996 dan kemudian pada 2012. Pengalaman spiritual itulah yang menumbuhkan tekad dalam dirinya: suatu hari nanti, keluarganya juga harus merasakan kekhusyukan yang sama.

Ia paham betul, antrean haji di Indonesia bisa memakan waktu puluhan tahun. Karena itu, langkah diambil sekarang, meski keberangkatan masih jauh di depan mata. Berdasarkan estimasi, ke-24 anggota keluarganya baru akan melunasi sisa setoran dan berangkat sekitar tahun 2050.

“Semoga Allah memberikan umur panjang dan kami semua bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu,” ujarnya, penuh harap.

Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan tentang panjangnya daftar tunggu dan tingginya biaya haji, kisah Haji Ali menghadirkan sudut pandang lain. Tentang ketekunan dari usaha kecil, kesabaran menunggu dalam waktu yang panjang, serta visi jauh ke depan demi keluarga. Dari gerobak es kelapa, ia menanam harapan agar kelak, satu per satu orang-orang yang ia cintai dapat menginjakkan kaki di Tanah Suci. (Redaksi)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *