Oleh : Pahala Pasaribu (Pemred sidikbangsa.com)
Di tanah Batak, sungai bukan sekadar aliran air yang membelah lembah dan perkampungan. Sungai adalah ingatan. Sungai adalah jalan pulang bagi hati yang lama merantau. Dan di antara banyak sungai yang mengalir di kawasan Tapanuli, nama Aek Sibundong memiliki tempat yang begitu istimewa di hati orang Batak.
Aek Sibundong mengalir dari kawasan Dolok Sanggul, melintasi wilayah Parmonangan, lalu bermuara hingga ke Sorkam. Aliran sungai ini menyentuh tiga kabupaten sekaligus: Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah.
Namun yang membuat Aek Sibundong begitu dikenang bukan semata karena panorama alamnya yang memesona. Sungai ini hidup abadi lewat sebuah lagu rakyat Batak Toba yang sederhana, tetapi mampu mengguncang rasa rindu siapa saja yang pernah meninggalkan kampung halaman.
Lagu yang Menjadi Jalan Pulang
Tak ada catatan resmi siapa pencipta lagu “Aek Sibundong”. Lagu ini lahir dari mulut ke mulut, diwariskan lintas generasi oleh masyarakat yang hidup di sepanjang aliran sungai itu.
Berbeda dengan banyak kisah Batak yang dipenuhi legenda mistis atau cerita para leluhur, lagu Aek Sibundong justru sangat manusiawi. Ia berbicara tentang cinta, kerinduan, dan kampung halaman.
> “Oh Aek Sibundong, parhasak mi mansai uli,
tudos hapas Palembang i, madabu tu sampuran i,
di Dolok Sanggul na uli…”
Syair itu menggambarkan air sungai yang mengalir jernih dan indah, sehalus kapas Palembang yang jatuh ke air terjun di Dolok Sanggul nan elok.
Bagi orang Batak yang hidup jauh dari tanah kelahiran, bait-bait sederhana itu seperti membuka kembali pintu kenangan masa kecil: jalan kampung yang dingin di pagi hari, suara gereja di hari Minggu, aroma kopi dari dapur rumah orang tua, hingga suara air sungai yang mengalir di antara bebatuan.
Tak heran jika lagu ini sering dinyanyikan dalam pesta adat, acara keluarga, pertemuan perantau, hingga pesta pernikahan orang Batak. Saat lagu itu terdengar, banyak mata yang mendadak berkaca-kaca.
Sungai yang Menjadi Milik Bersama
Keistimewaan Aek Sibundong terletak pada kedekatannya dengan banyak orang. Sungai ini bukan hanya milik satu daerah, melainkan menghubungkan tiga kabupaten sekaligus.
Karena itulah, banyak orang Batak merasa memiliki lagu ini. Orang Humbahas merasa dekat karena sungai itu lahir dari Dolok Sanggul. Orang Taput mengenangnya karena alirannya melewati Parmonangan. Sementara masyarakat Tapteng mengenal sungai itu hingga muaranya di Sorkam.
Aek Sibundong menjadi semacam “urat nadi emosional” yang menghubungkan kampung-kampung Batak di pegunungan hingga pesisir.
Kesederhanaan liriknya justru menjadi kekuatan utama. Lagu ini tidak menggunakan bahasa sastra yang rumit, melainkan bahasa hati yang langsung menyentuh perasaan pendengarnya.
Banyak perantau Batak di Jakarta, Medan, Batam, bahkan luar negeri mengaku tiba-tiba rindu pulang kampung setelah mendengar lagu ini diputar.
Rindu Kampung, Rindu Kekasih
Keindahan lagu Aek Sibundong juga terletak pada maknanya yang bisa dibaca dalam dua arah sekaligus.
Di satu sisi, ia adalah lagu tentang kerinduan kepada tanah kelahiran. Namun di sisi lain, lagu ini juga menyimpan kisah cinta yang lembut dan mendalam.
> “Ilu maraburan sian simalolonghi,
alai boha roham tu au haholongan?”
Air mengalir dari hulu, tetapi bagaimana perasaanmu kepadaku, wahai kekasih?
Lalu pada bait berikutnya:
> “Laho ma ho tu aek i, ima Aek Sibundongi,
di Dolok Sanggul na uli disi do au…”
Pergilah kau ke sungai itu, yaitu Aek Sibundong. Di Dolok Sanggul yang indah, di sanalah aku berada.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi begitu dalam. Seolah seseorang yang merantau berkata kepada orang yang dicintainya: jika rindu, datanglah ke sungai itu, sebab di sanalah kenangan dan cinta masih tinggal.
Hidup dari Generasi ke Generasi
Popularitas lagu Aek Sibundong terus bertahan karena banyak dibawakan ulang oleh penyanyi Batak ternama seperti Joel Simorangkir, Charles Simbolon, hingga Robert Simorangkir.
Versi Robert Simorangkir menjadi salah satu yang paling populer di kalangan generasi muda Batak saat ini. Lagu itu terus diputar di pesta adat, di warung kopi, di perjalanan mudik, bahkan di kamar-kamar kos para perantau.
Meski zaman berubah dan musik modern terus berkembang, lagu ini tetap bertahan karena ia bukan sekadar hiburan. Ia telah menjadi identitas budaya.
Statusnya kini hampir sama seperti lagu rakyat Batak legendaris lainnya seperti Sinanggar Tulo dan Butet, hidup tanpa diketahui siapa penciptanya, tetapi melekat kuat dalam ingatan kolektif masyarakat.
Dari Sungai Kehidupan Menjadi Simbol Kerinduan
Kini, Aek Sibundong bukan hanya dikenal sebagai sungai alami. Alirannya juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air demi mendukung kebutuhan energi di Sumatera Utara.
Namun bagi orang Batak, nilai terbesar sungai ini tetap bukan pada listrik atau pembangunan. Nilainya ada pada kenangan yang dibawanya.
Aek Sibundong telah berubah menjadi simbol kerinduan. Ia menjadi jembatan batin bagi para perantau untuk pulang, meski hanya lewat lagu dan ingatan.
Sebab pada akhirnya, tidak semua orang bisa langsung kembali ke kampung halaman. Tetapi melalui lagu “Aek Sibundong”, banyak hati merasa seolah sedang berdiri lagi di tepian sungai itu, mendengar air mengalir pelan, memandang bukit-bukit Dolok Sanggul, dan mengenang rumah yang selalu menunggu untuk didatangi pulang. ***









