Kota Bekasi, sidikbangsa.com — Abrasi Kali Bekasi kembali memicu bencana di wilayah bantaran sungai. Kali ini, tiga rumah warga di Gang Duku, RT 003/RW 002, Kelurahan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, mengalami longsor setelah debit air sungai meningkat drastis akibat hujan berintensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Longsor terjadi karena gerusan arus Kali Bekasi yang terus mengikis tanah bantaran, diperparah oleh tingginya curah hujan, baik di wilayah Kota Bekasi maupun daerah hulu. Kondisi ini membuat struktur tanah menjadi labil dan tak mampu menahan derasnya aliran air.
Lurah Teluk Pucung, Ismail Marjuki, menjelaskan bahwa peningkatan debit air sungai menjadi faktor utama penyebab longsor tersebut. Ia menyebut, kejadian serupa sebenarnya sudah pernah terjadi sebelumnya.
“Debit air Kali Bekasi naik cukup signifikan sehingga menggerus bantaran sungai. Dampaknya, tiga rumah warga mengalami longsor. Kejadian seperti ini sebenarnya sudah pernah terjadi pada 2024, namun saat itu baru satu rumah yang terdampak,” ujar Ismail saat meninjau lokasi kejadian, Senin (27/1/2026).
Ismail menambahkan, titik rawan abrasi tidak hanya berada di RT 003/RW 002. Wilayah lain yang juga berpotensi longsor terpantau di RT 002/RW 003, tepatnya di area belakang Gudang Aqua. Untuk mencegah risiko lanjutan, pihak kelurahan telah mengimbau warga agar sementara waktu mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Kami mengimbau warga untuk bergeser sementara ke rumah saudara atau tetangga. Selanjutnya, kami akan berkoordinasi dengan RT, RW, PSM, Posyandu, serta unsur terkait lainnya untuk penanganan warga terdampak,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu warga terdampak, Kamil Sofyan (62), mengaku longsor akibat abrasi Kali Bekasi bukan kali pertama dialaminya. Bahkan, sejak lebih dari satu dekade lalu, rumahnya sudah beberapa kali terdampak peristiwa serupa.
“Rumah saya sudah mengalami longsor sejak 2013, lalu 2020, dan 2024. Tahun 2020 saya habiskan sekitar Rp 65 juta untuk mengurug tanah. Tahun 2024 dibantu FKRW, LPM, dan BKM untuk perbaikan pondasi, menghabiskan sekitar Rp 63 juta. Sekarang longsor lagi, tanah yang hilang hampir 100 meter,” ungkap Kamil.
Menurut Kamil, ancaman longsor justru lebih sering dipicu oleh kiriman air dari wilayah Bogor, bukan semata hujan lokal di Kota Bekasi. Akibat abrasi terbaru ini, bagian dapur rumahnya tak lagi bisa digunakan karena pondasi yang terus tergerus arus sungai.
“Kalau hujan di Bekasi saja saya tidak terlalu khawatir. Tapi kalau sudah ada kiriman air dari Bogor, meski sebentar, itu yang paling berbahaya. Kalau banjir biasa, air surut bisa dibersihkan. Tapi kalau longsor, tanah dan rumah bisa hilang,” tuturnya.
Ia pun berharap Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga Pemerintah Kota Bekasi dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan abrasi Kali Bekasi yang terus berulang. Menurutnya, penanganan jangka panjang seperti normalisasi sungai hingga kini belum terealisasi secara maksimal.
“Mudah-mudahan ada penanganan yang benar-benar serius. Normalisasi Kali Bekasi ini sudah lama didengar, tapi sampai sekarang belum terwujud. Jangan sampai terus ada korban,” pungkasnya. (Red)









