Kota Bekasi, sidikbangsa.com – Penggusuran lapak UMKM di sekitar Pendopo Apresiasi, markas Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ) Kota Bekasi di Lapangan Multiguna, menuai perhatian. Perwakilan KPJ, Remon Bitti, menegaskan dukungan terhadap program pemerintah dalam mewujudkan kebersihan, ketertiban, dan keamanan (K3), namun meminta agar penataan tidak menghapus ruang pembinaan yang telah berjalan hampir tiga dekade, Selasa (24/02/2026).
Menurut Remon, KPJ selama 29 tahun menjadi wadah pembinaan seni, budaya, dan olahraga bagi anak-anak jalanan. Sejak 2003, mereka memanfaatkan panggung yang dibangun pemerintah pada 2002 di Lapangan Multiguna sebagai pusat kegiatan. Dari lokasi itu lahir berbagai aktivitas, mulai dari latihan teater, musik, diskusi, hingga pembinaan olahraga seperti taekwondo di bawah naungan Pengcab PBTI Kota Bekasi dan tinju.
Pendopo Apresiasi tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang diskusi “Kata Kota Kita” dan pusat edukasi berbasis kemandirian. Di sana, anak-anak jalanan dibina untuk mengembangkan bakat, membangun karakter, serta merajut gagasan lintas komunitas demi kemajuan Kota Bekasi.
Lapangan Multiguna sendiri dikenal sebagai kantong budaya yang diisi beragam komunitas, seperti barang antik, batu akik pandan, sepeda ontel, hingga komunitas Orang Indonesia (Oi). Kegiatan kontes batu, edukasi pusaka, dan forum diskusi rutin digelar, memperkuat ekosistem budaya di kawasan tersebut.
Remon mengusulkan agar area itu dikembangkan menjadi pasar seni untuk mempertegas identitas budaya Bekasi. Ia menilai Bekasi tak hanya dikenal sebagai Kota Patriot atau Kota Santri, tetapi juga perlu memiliki ciri khas budaya yang kuat dan membumi, termasuk potensi lokal seperti batu akik pandan.
KPJ saat ini masih menunggu audiensi dengan pemerintah daerah. Mereka berharap ruang pembinaan tetap dipertahankan karena manfaatnya dirasakan luas, terutama bagi anak-anak di bawah umur yang kerap membutuhkan pendampingan sosial, pendidikan, hingga bantuan kesehatan.
Menurut Remon, tanpa penyediaan ruang berekspresi dan pembinaan, persoalan sosial tidak akan selesai, melainkan hanya berpindah tempat. Ia menilai kehadiran aktivitas seni dan olahraga di Pendopo Apresiasi turut mengubah kawasan yang sebelumnya rawan menjadi lebih aman dan produktif.
“Jalanan bukan sandaran atau impian, tapi kenyataan hidup. Di KPJ hanya ada dua larangan: kriminal dan bertengkar. Nama itu kosong, karya itu nyata,” tegasnya.
KPJ berharap Pemerintah Kota Bekasi menjadi penyambung, bukan pemutus, agar pembangunan kota tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga pada pembangunan kualitas manusianya. (Red)









