Oleh : Pahala Pasaribu (Pemred)
Tidak jarang dalam kehidupan modern, manusia tanpa sadar menempatkan kekayaan sebagai pusat hidupnya. Uang, harta benda, jabatan, dan segala bentuk kemapanan materi sering kali menjadi tujuan utama yang dikejar dengan sepenuh hati, tenaga, dan pikiran. Dalam kondisi seperti ini, manusia dapat terjebak dalam penyembahan terhadap apa yang oleh Alkitab disebut sebagai Mamon—sebuah istilah yang melampaui sekadar uang, tetapi menunjuk pada kuasa yang mengikat hati manusia dan menuntut kesetiaan total.
Arti dan Makna Mamon dalam Alkitab
Secara etimologis, kata Mamon berasal dari bahasa Aram yang berarti kekayaan, harta, atau sesuatu yang diandalkan. Namun dalam pengajaran Yesus, Mamon tidak dipahami secara netral. Ia dipersonifikasikan sebagai tuan saingan Allah, sebuah kuasa yang berpotensi menggantikan posisi Tuhan dalam hidup manusia. Mamon bukan hanya soal memiliki harta, melainkan tentang ketergantungan, kelekatan, dan kepercayaan yang berlebihan pada harta tersebut.
Yesus dengan tegas menyatakan bahwa manusia tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Pilihannya jelas: Allah atau Mamon (lihat Matius 6:24). Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalannya bukan pada keberadaan harta, melainkan pada siapa yang menjadi pusat kesetiaan hidup.
Mamon sebagai Berhala Zaman Modern
Dalam konteks zaman sekarang, Mamon sering hadir dalam bentuk yang lebih halus dan diterima secara sosial. Ambisi berlebihan terhadap karier, obsesi terhadap gaya hidup mewah, ukuran keberhasilan yang semata-mata dinilai dari materi, serta kecemasan berlebihan akan masa depan finansial—semua ini dapat menjadi wujud nyata penyembahan terhadap Mamon.
Ironisnya, banyak orang tetap mengaku beriman kepada Tuhan, namun dalam praktik hidup sehari-hari, keputusan-keputusan penting lebih didasarkan pada pertimbangan materi daripada nilai-nilai rohani. Tuhan diposisikan sebagai pelengkap, sementara Mamon menjadi penentu utama arah hidup.
Dampak Penyembahan Mamon bagi Kehidupan Rohani
Ketika Mamon dimuliakan, hati manusia perlahan menjauh dari Tuhan. Ketamakan menumpulkan kepekaan nurani, kepedulian terhadap sesama melemah, dan relasi dengan Allah menjadi kering. Lukas 16:9–13 menunjukkan bahwa kesetiaan dalam perkara kecil, termasuk dalam mengelola harta, mencerminkan kesetiaan seseorang kepada Allah.
Penyembahan terhadap Mamon juga melahirkan ilusi keamanan palsu. Kekayaan dianggap mampu menjamin kebahagiaan dan masa depan, padahal pada kenyataannya harta bersifat sementara dan rapuh. Ketika harta menjadi sandaran utama, iman pun kehilangan maknanya.
Sikap Iman yang Benar terhadap Harta
Alkitab tidak mengajarkan penolakan total terhadap kekayaan, tetapi menekankan pengelolaan yang benar. Harta seharusnya menjadi alat, bukan tujuan; sarana untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama, bukan untuk meninggikan diri sendiri. Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk mengumpulkan harta di surga—yaitu nilai-nilai kekal seperti kasih, keadilan, kesetiaan, dan ketaatan kepada Allah.
Dengan menempatkan Tuhan sebagai pusat hidup, manusia dibebaskan dari perbudakan Mamon. Harta tidak lagi menguasai hati, melainkan dikelola dengan hikmat dan tanggung jawab.
Penutup
Penyembahan terhadap Mamon adalah tantangan nyata bagi setiap orang percaya, terutama di tengah budaya yang mengagungkan materi. Refleksi atas ajaran Yesus mengingatkan bahwa pilihan antara Tuhan dan Mamon bukan sekadar pilihan moral, melainkan pilihan arah hidup. Hanya dengan menempatkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, manusia dapat mengalami kebebasan sejati dan hidup yang bermakna. ***









